Rumah Adat Aceh

Rumah Adat Aceh – Aceh memiliki sebuah rumah adat yang bernama Rumoh Aceh. Rumah adat Aceh ini memiliki struktur dan karakteristik bangunan yang khas.

Seperti kebanyakan rumah adat di tanah air, rumoh Aceh memiliki fungsi khusus yang sesuai dengan kebiasaan masyarakat Aceh itu sendiri.

Tidak usah lama-lama lagi, mari kita simak artikel rumoh Aceh berikut ini. Supaya cepat dalam memahami artikelnya, ada baiknya dibaca pelan-pelan, jangan terburu-buru dan pahami isi artikelnya. Yuk mulai.

A. Sejarah Rumoh Aceh

Sumber: steemit.com

Rumoh aceh sudah ada sejak aceh dipimpin oleh seorang raja. Melansir Gerakan Literasi Nasional (GLN) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), menyatakan rumoh Aceh memang masuk dalam bagian  rumah adat.

Karena di Aceh terdapat banyak rumah yang bentuk bangunannya memiliki kemiripan dengan rumoh Aceh. Bahkan di Aceh terdapat rumah milik pahlawan nasionalis seperti Cut Nyak Dhien dan Cut Meutia yang berbentuk rumoh aceh.

Cut Nyak Dhien bertempat di rumah Aceh yang terletak di Gampong Lampisang, Aceh Besar, sedangkan Cut Meutia yang juga pemilik rumah Aceh beralamat di Matangkuli, Aceh Utara.

Saat ini, dua rumah warisan Cut Nyak Dhien dan Cut Meutia masih terjaga dan dijadikan sebagai objek wisata sejarah dan budaya di Aceh.

Hingga saat ini, masih banyak masyarakat Aceh yang masih menggunakan rumah ini sebagai tempat tinggal, terutama di daerah pedesaan.

Herman RN dalam “Arsitektur Rumah Adat Aceh” menjelaskan bahwa rumoh Aceh ini masih dapat dijumpai di Aceh Besar, Aceh Barat Daya, dan Aceh Selatan.

B. Bagian Utama Rumah Aceh

Sumber: ibnudin.net

Walaupun jika kita melihat rumoh Aceh secara detail akan terlihat memiliki bentuk yang berbeda, namun rumoh Aceh secara umum memiliki interior yang memiliki fungsi yang hampir sama. Mari kita simak pembahasan berikut ini:

1. Rumoh-Inong (rumah induk)

Sumber: wikimedia.org

Terletak di antara serambi depan dan serambi belakang dengan ruangan pada posisi yang lebih tinggi dan terdapat dua ruangan atau kamar.

Dipisahkan oleh lorong yang menghubungkan dua ruangan (serambi depan dan serambi belakang).

Rumah induk adalah bangunan yang paling besar atau bangunan yang utama. Berfungsi sebagai tempat tinggal bagi keluarga yang bertempat di rumah tersebut.

2. Keupaleh (gerbang)

Sumber: kemdikbud.go.id

Gerbang adalah sebuah bangunan di depan rumah. Gerbang itu sendiri biasanya dimiliki oleh orang berada atau tokoh dikalangan masyarakat Aceh.

Ini pertanda bahwa gerbang hanya dimiliki oleh orang-orang tersebut (orang berada/tokoh masyarakat). Gerbang yang dimaksud adalah gerbang kayu, namun dilengkapi dengan bilik di atasnya.

Gerbang ini juga berfungsi sebagai pembatas antara area dalam rumah dengan luar rumah.

3. Seulasa (teras)

Sumber: andalastourism.com

Teras merupakan tempat peralihan, yaitu ketika seseorang dari area luar masuk menuju ruang dalam rumah atau sebaliknya.

Teras ini terletak di bagian paling depan rumah, biasanya dinaungi oleh atap dan letaknya bersebelahan dengan serambi. Letaknya sudah ditentukan sejak zaman dahulu dan tidak berubah sampai sekarang.

4. Seuramoe-ukeu (serambi depan)

Sumber: kemdikbud.go.id

Ruangan ini berada di bagian depan rumah dan bukan merupakan bangunan utama, memiliki fungsi yang hampir sama dengan teras.

Serambi berfungsi sebagai tempat menerima tamu laki-laki dan sekaligus sebagai tempat makan dan tidur bagi tamu laki-laki.

Serambi juga berfungsi sebagai penghubung antara bagian depan rumah dengan ruangan yang berada di dalam rumah induk.

5. Tamee (tiang)

Sumber: budayanusantara.web.id

Tamee merupakan komponen utama dalam bangunan rumah orang Aceh, fungsinya sebagai penyangga atau tumpuan bangunan pada rumah agar tidak roboh.

Tiang ini harus benar-benar kuat dan kokoh. Bangunan Romah Aceh sendiri banyak yang menggunakan tiang sebagai penyangga, sehingga tiang termasuk dalam komponen penting di dalam maupun di luar rumah.

6. Rumoh-dapu (dapur)

Sumber: indonesiatraveler.id

Dapur di rumoh Aceh letaknya bersebelahan atau terhubung dengan serambi belakang. Dapur memiliki posisi lantai yang relatif lebih rendah jika dibandingkan dengan teras belakang rumah yang memiliki posisi lantai yang lebih tinggi.

Dapur berfungsi sebagai tempat menyimpan, menyiapkan bahan makanan agar dapat diolah sehingga makanan dapat disajikan sesuai standar yang dapat dikonsumsi.

7. Seuramoe-likoot (serambi belakang)

Sumber: indonesiakaya.com

Serambi belakang memiliki fungsi yang hampir sama dengan serambi depan.

Perbedaan yang mencolok antara keduanya adalah jika serambi depan digunakan untuk menerima tamu laki, maka yang belakang digunakan untuk menerima tamu perempuan.

Ruangan ini berada di bagian depan rumah dan bukan merupakan bangunan utama, memiliki fungsi yang hampir sama dengan teras.

Serambi belakang berfungsi sebagai tempat menerima tamu perempuan dan sekaligus sebagai tempat makan dan tidur bagi tamu perempuan.

Serambi belakang juga berfungsi sebagai penghubung antara bagian belakang rumah dengan ruangan yang berada di dalam rumah induk.

8. Kroong-padee (lumbung padi)

Sumber: steemitimages.com

Mayoritas masyarakat di Aceh adalah seorang petani, sehingga tidak heran kalau kita melihat ke arah rumah mereka. Rumahnya dilengkapi dengan lumbung padi, meskipun letaknya terpisah dari bangunan utama.

Biasanya lumbung padi berada di pekarangan rumah, bisa di samping, di belakang, atau di depan rumah. Rumah yang lebih besar umumnya memiliki kroong-padee atau lumbung padi yang terpisah.

Sesuai dengan namanya, tempat ini digunakan untuk menyimpan perbekalan beras untuk dijual atau dimasak sendiri bersama keluarga. Selain itu, ruangan ini juga biasanya digunakan untuk menyimpan alat penumbuk beras.

C. Bentuk dan Ciri Khas Rumah Adat Aceh

Rumoh Aceh umumnya berbentuk rumah panggung dan persegi panjang dari timur ke barat. Penentuan arah dan bentuk persegi panjang dari Timur ke Barat dilakukan untuk memudahkan dalam menentukan arah kiblat.

Memiliki tangga di depan rumah yang memiliki jumlah anak tangga ganjil, misalnya 7 atau 9 anak tangga, karena rumah ini memiliki penyangga dengan ketinggian 2,5-3 meter.

Memiliki pintu yang berbentuk unik, yakni tingginya tidak lebih tinggi dari orang dewasa, yaitu sekitar 120-150 cm.

Di rumah ini Anda tidak akan menemukan kursi atau sofa untuk diduduki tamu, namun pemilik rumah biasanya menyediakan tikar sebagai alas duduk.

Beberapa bahan berikut yang digunakan untuk pembuatan rumoh Aceh:

  • Kayu, Bahan yang sangat dibutuhkan. Dikarenakan rumoh Aceh bangunannya di dominasi oleh kayu.
  • Papan, berguna untuk pembuatan dinding dan lantai rumah.
  • Bambu, atau yang sering disebut “trieng” berguna untuk pembuatan alas lantai.
  • “Temor“, atau “enau” digunakan sebagai bahan cadangan, jika bambu tidak mencukupi.
  • Tali ikat atau yang sering disebut “taloe moe-ikat” yang terbuat dari rotan dan tali ijuk digunakan untuk mengikat bahan bangunan.
  • Daun rumbia, atau yang sering disebut dengan “oen meuria” yang digunakan sebagai bahan cadangan untuk membuat atap.
  • Daun “Enau“, digunakan sebagai bahan cadangan untuk membuat atap ketika daun ilalang tidak ada.
  • Pelepah rumbia, atau “paleupeuk meuria” digunakan sebagai bahan dasar pembuatan dinding rumah.

Rumoh Aceh sendiri memiliki banyak sekali ornamen dan ukiran di dalamnya. Ornamen menggambarkan status keuangan pemilik rumah itu sendiri.

D. Jenis Rumah Adat Aceh

Ada 3 jenis Rumoh Aceh, yaitu Krong Bade, Santeut, dan Rangkang. Orang Aceh biasanya menyebut rumah Aceh dengan sebutan Rumoh Aceh. Rumah adat Aceh ini dibagi dalam beberapa tipe.

Rata-rata, sama seperti rumah tradisional Sumatera lainnya, rumah Aceh ini memiliki konsep rumah panggung. Biasanya ketinggian rumah sekitar 2 sampai 3 meter.

Maka dari itu tidak terlalu sulit untuk mengenali rumoh Aceh saat Anda berkunjung ke sana. Kemudian ciri utama yang bisa Anda kenali selanjutnya adalah pada pintu yang tingginya hanya sekitar 120-150 cm.

Karena itu, jika Anda ingin melewatinya, Anda harus membungkuk terlebih dahulu. Rumoh Aceh mungkin jarang ditemukan di perkotaan, karena masyarakat sekarang lebih menyukai bangunan yang lebih modern.

Namun, Anda masih bisa menemukan rumah adat di Aceh di daerah pedesaan. Masing-masing jenis dan ciri khas rumah adat Aceh adalah sebagai berikut:

1. Rumoh Krong Bade

Sumber: rumah.com

Krong Bade merupakan rumah panggung khas Aceh dengan ketinggian dari 2,5 hingga 3 meter. Hampir semua bahan bangunan terbuat dari kayu, hanya atapnya yang terbuat dari daun rumbia.

Di bagian bawah rumah atau di bawahnya, biasanya digunakan untuk menyimpan bahan makanan. Aktivitas wanita atau ibu rumah tangga seperti menenun juga dilakukan di sini.

Sebelum memasuki rumah, Anda akan menjumpai tangga dengan jumlah anak tangga ganjil. Sesudah menaiki tangga, biasanya hanya terdapat satu atau beberapa lukisan yang tergantung di dinding.

Selain sebagai penghias rumah, lukisan ini juga menunjukkan status sosial dan ekonomi pemilik Krong Bade. Banyaknya lukisan menunjukkan pemiliknya adalah orang dari kelas ekonomi tinggi.

2. Rumoh Santeut

Sumber: rimbakita.com

Rumah adat kedua Santeut dari Aceh disebut juga Tampong Limong. Bentuk Rumoh Santeut sangat sederhana, karena bangunan ini merupakan jenis rumah yang dihuni oleh masyarakat umum. Ketinggian tiap ruangan dibuat sama atau sekitar 1,5 meter.

Bahan-bahan untuk membuat Rumoh Santeut lebih sederhana dan murah dibandingkan Krong Bade. Dinding dan atapnya terbuat dari daun rumbia.

Sedangkan lantainya terbuat dari bambu yang dibelah kemudian disusun berjajar namun tidak terlalu rapat. Tujuan penataan ini agar sirkulasi udara dari luar ke dalam rumah lebih lancar. Sehingga bagian dalam rumah lebih sejuk.

Di Depan bale biasanya ada sebuah bale. Karena ukuran Rumoh Santeut pada umumnya tidak lebar. Bagian bawah rumah digunakan sebagai tempat menerima tamu dan tempat mengadakan acara-acara tertentu.

3. Rumoh Rangkang

Sumber: udfauzi.com

Diurutan terakhir terdapat rumah Rangkang. Rumah ini bukanlah tempat tinggal seperti dulu, melainkan tempat peristirahatan bagi masyarakat atau disebut tempat singgah.

Rumah ini hanya digunakan untuk persinggahan sejenak. Seperti mereka yang ingin beristirahat ketika dalam perjalanan jauh.

Rumah ini berbentuk seperti rumah panggung. Karena hanya sebagai tempat singgah, pembuatannya tidak memakan banyak biaya. Bahan yang digunakan biasanya adalah daun sagu sebagai atapnya dan beberapa kayu biasa.

Walaupun terlihat sederhana, rumah ini sangat bermanfaat bagi masyarakat Aceh. Karena sangat membantu untuk mereka yang lelah ketika melakukan perjalanan jauh.


Semoga artikel di atas dapat menambah wawasan Anda dalam mengenal lebih jauh tentang budaya Indonesia.

Indonesia tentunya memiliki banyak sekali budaya dan seni yang harus terus kita lestarikan. Semoga Anda termasuk orang yang menjaga budaya bangsa dan bisa melestarikannya.