Rumah Adat Bali

Rumah Adat Bali – Provinsi Bali identik dengan agama hindu, Bali memiliki rumah adat dengan arsitektur tradisional yang merupakan perwujudan budaya Bali dan konsepsi agama Hindu.

Tidak hanya digunakan untuk tempat tinggal, tetapi rumah adat Bali ini juga berfungsi untuk melaksanakan upacara adat dan keagamaan. Berbagai pengetahuan dan budaya di setiap daerah memunculkan keunikan rumah adat di Indonesia.

Provinsi Bali sangat kental dengan budaya dan tradisi turun temurun mereka. Sebelum membangun rumah, masyarakat Bali akan melalui sebuah prosesi adat terlebih dahulu.

Pertama, arsitek bali atau biasa disebut dengan undagi diharuskan melakukan ritual penyucian diri terlebih dahulu. Kedua, membuat sebuah sanggah yang diisi dengan pejati dan dipersembahkan kepada Bhagawan Wiswakarma.

Setelah itu akan dilakukan serangkaian beberapa upacara sebelum rumah benar-benar jadi. Sebelum membaca artikel tentang berbagai jenis rumah adat Bali, tempatkan tubuh Anda terlebih dahulu pada posisi yang paling nyaman.

Agar nantinya bisa lebih fokus dan cepat memahami pembahasan terkait artikel ini. Langsung saja, berikut artikel yang memuat mengenai 11 rumah adat Bali beserta penjelasannya.

Macam-Macam Jenis Rumah Adat Bali

Sumber: furnizing.com

Berikut ini adalah rumah-rumah yang masuk dalam kategori rumah adat Bali. Simak baik-baik, agar Anda dapat dengan mudah memahami apa yang telah kami jelaskan di bawah ini.

1. Sanggah atau Pura Keluarga

Sumber: sejarahharirayahindu.blogspot.com

Pura Keluarga adalah bagian dari rumah orang Bali yang digunakan sebagai tempat peribadatan dan berdoa. Menurut hukum adat, setiap orang Bali wajib memiliki bangunan yang satu ini, baik kecil maupun besar.

Selain disebut Pura Keluarga, bangunan ini juga dikenal dengan nama bangunan Pamerajan, atau Sanggah. Berbeda dengan Bale Dauh, bangunan Pura Keluarga di rumah adat Bali ini difungsikan sebagai tempat peribadatan saja.

Letaknya berada di ujung timur laut, tempat ini berfungsi sebagai tempat sembahyang dan pemujaan kepada Tuhan dan roh suci para leluhur.

Pada bagian ini terdapat beberapa bangunan dengan fungsinya masing-masing dan jumlah bangunan bervariasi tergantung pemilik rumah.

2. Bale Manten

Sumber: lamudi.co.id

Pada rumah adat Bali, Bale Manten memiliki bangunan berbentuk persegi panjang yang terletak di bagian utara (dajan natah umah) atau di bagian barat Sanggah / Pamerajan. Bale Manten memiliki 2 buah bale yang terletak di kiri dan kanan ruangan.

Biasanya rumah Bale Manten ini memiliki fungsi sebagai tempat tidur khusus untuk kepala keluarga dan untuk wanita yang belum menikah atau masih perawan.

Hal ini sebagai bentuk perhatian keluarga kepada anak gadisnya agar kesuciannya tetap terjaga. Bale manten menggunakan saka/tiang dari kayu berjumlah 8, dan 12.

Bale manten memiliki permukaan paling tinggi di antara bale lainnya yang menggunakan bebatuan dengan lantai yang cukup tinggi dari permukaan tanah, sekitar 75-100 cm.

3. Aling-aling

Sumber: tokopedia.com

Aling-aling merupakan bangunan rumah dominan yang berfungsi sebagai pembatas antara angkul-angkul dengan halaman luar dan dipercaya berfungsi untuk menahan aura negatif agar tidak masuk ke halaman rumah.

Makna dari filosofi aling-aling adalah energi positif yang menetralisir aura jahat di lingkungan rumah. Masyarakat Bali percaya bahwa aling-aling memiliki fungsi sebagai penangkal hal-hal negatif dari luar dan memberikan aura positif.

Selain fungsi di atas, Aling-aling memiliki fungsi lain yaitu memberikan privasi kepada penghuni rumah karena tamu yang masuk harus menyamping ke kiri saat masuk rumah dan menyamping ke sisi kanan ketika keluar rumah.

Sekarang banyak orang menggunakan patung untuk aling-aling. Beberapa orang bahkan menggunakan patung untuk menjadi aling-aling, atau penyengker.

Aling-aling merupakan bagian dari rumah adat Bali yang terletak di Pulau Seribu Pura dengan bangunan rumah. Bangunan yang berfungsi sebagai pembatas antara bagian luar dengan angkul-angkul.

Aling-aling berarti energi yang positif dan baik untuk keharmonisan rumah tangga.

4. Bale Dauh / Loji (Bale Tiang)

Sumber: furnizing.com

Sama seperti Bale Gede, Bale Dauh merupakan rumah adat Bali yang digunakan sebagai tempat berkumpul. Bangunan ini dapat ditemukan di sejumlah rumah adat Bali.

Uniknya, gedung Bale Dauh harus memiliki ketinggian lantai yang lebih rendah dari Bale Manten yang telah dibahas di atas. Bale Loji atau Tiang Sanga adalah istilah yang sering disematkan pada bangunan Bale Dauh.

Keunikan Bale Dauh adalah jumlah tiang yang berbeda antara satu rumah dengan rumah lainnya, dan memiliki sebutan khusus untuk jumlah tiangnya. Memiliki bentuk bangunan persegi panjang dengan menggunakan tiang kayu.

Namanya berbeda dengan jumlah tiang, jika ada 6 tiang disebut sakenem, 8 tiang disebut sanctus/astasari, dan jika ada 9 tiang disebut singasari. Bahan dasar bangunan ini adalah bebatuan.

Bale Dauh dapat dikatakan sebagai ruang tamu dari sebuah rumah tradisional Bali. Tempat ini digunakan ketika ada seseorang yang bertamu ke tempatmu.

Selain itu, ruangan di dalamnya juga bisa digunakan sebagai tempat tidur untuk remaja laki-laki. Namun, letaknya di bagian dalam ruangan, bukan di pojok.

5. Klumpu atau Jineng

Sumber: nimadesriandani.wordpress.com

Gambar rumah adat Bali di atas disebut Jineng atau Klumpu. Bangunan ini berfungsi untuk menyimpan gabah yang biasanya disimpan di dua tempat yang berbeda, perbedaannya adalah di bawah gabah masih basah dan di atas untuk gabah kering.

Rumah adat yang memiliki Jineng biasanya adalah keluarga yang menghasilkan hasil pertanian setiap tahunnya. Bangunan rumah tradisional Bali ini memiliki ukuran sedang yang terbuat dari kayu.

Keunikan Jineng adalah posisinya dibuat lebih tinggi. Selain itu, bentuknya terlihat seperti gua dengan atap jerami kering. Fungsi dari bagian rumah adat Bali ini adalah untuk menyimpan gabah yang sudah dijemur atau dijemur.

Bangunannya dibuat cukup tinggi, karena digunakan untuk menyimpan biji-bijian ini. Dengan ruangan ini, biji-bijian akan terlindungi dari serangan burung dan juga jamur yang biasanya muncul di tempat lembab.

Kemudian untuk bagian bawah biasanya digunakan untuk menyimpan gabah yang belum dijemur.

6. Bale Gede atau Bale Dangin

Sumber: bangunanstilbaligedebawa.blogspot.com

Bale Gede merupakan bagian dari rumah adat Bali yang berfungsi sebagai tempat berkumpul dan tempat menyajikan makanan khas Bali yang digunakan untuk upacara adat.

Letaknya di sebelah timur rumah utama dengan posisi lantai yang lebih tinggi, melebihi tinggi lantai dari Bale Manten.

Fungsi lain dari rumah adat ini adalah sering digunakan sebagai tempat pembuatan patung atau ukiran Bali, serta tempat merajut pakaian. Gambar rumah adat Bali di atas disebut Bale Gede.

Bale Dangin disebut Bale Gede jika memiliki jumlah tiang 12 dan setiap tiang kayu memiliki nama lain seperti Bale Dauh tergantung jumlah tiangnya. Memiliki bentuk persegi panjang atau segi empat tergantung jumlah tiang yang digunakan.

7. Bale Sekapat

Sumber: 99.co

Saat melihat desain rumah adat ini, langsung terasa kesan mewahnya, kan!

Berikutnya adalah Bale Sekapat yang lebih mirip gazebo dengan empat tiang. Dengan adanya Bale Sekapat ini diharapkan setiap anggota keluarga semakin dekat satu sama lain dan kerukunan tetap terjaga.

Bale Sekapat merupakan bagian dari rumah adat Bali yang berfungsi sebagai tempat bersantai untuk melepaskan keluh kesah yang terjadi dan dapat bercerita kepada seluruh anggota keluarga.

Dari segi tampilan, Bale Sekapat seperti rumah yang terlihat memiliki harga yang sangat mahal, karena rumah adat Bali ini terlihat mewah dengan banyak ukiran yang indah.

Kemewahan rumah Bale Sekapat bertambah karena empat tiang di bagian depan yang juga penuh dengan ukiran. Bangunan ini diberi nama Bale Sekapat.

Ciri khas Bale Sekapat adalah empat tiang penyangga atap megah. Fungsi Bale Sekapat adalah sebagai tempat berkumpul dan bersantai keluarga.

8. Bale Delod

Sumber: facebook.com

Tidak banyak orang yang mengetahui bangunan ini, bangunan ini digunakan jika ketika ada anggota keluarga yang meninggal, sebelum terjadinya ngaben maka akan disemayamkan terlebih dahulu di ruangan ini.

Bangunan ini tidak kalah pentingnya dengan bangunan lain di rumah khas Bali. Fungsinya seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, yaitu untuk kegiatan adat dan bale untuk kematian anggota keluarga.

9. Pawaragen

Sumber: perwakilan.baliprov.go.id

Menurut adat Bali, Pawaragen digunakan sebagai dapur atau jika di Bali biasa disebut dengan Paon. Penamaan paon ini hampir sama dengan nama dapur dalam bahasa Jawa yaitu Pawon. Paon terbagi menjadi dua ruangan yaitu dalam dan luar.

Letak bangunan ini berada di sebelah barat laut atau selatan rumah. Banyak yang bertanya, mengapa bangunan ini terbagi menjadi 2 ruangan? Jadi ruangan di bangunan ini dibagi menjadi 2 karena memiliki fungsi yang berbeda.

Ruang luar berguna saat ingin memasak menggunakan kayu bakar, sedangkan bagian dalam berguna untuk menyimpan peralatan dapur dan peralatan makan lainnya.

10. Angkul-angkul

Sumber: mybalitrips.com

Seperti yang telah dibahas sebelumnya, rumah adat Bali selalu memiliki ciri khas dengan bangunan mirip gapura di depan pura. Itu namanya angkul-angkul.

Angkul-angkul ini merupakan bagian dari rumah adat Bali yang merupakan pintu masuk ke rumah utama. Hampir memiliki kesamaan fungsi yang sama dengan Gapura Candi Bentar.

Namun, Angkul lebih berfungsi sebagai pintu masuk saja. Perbedaan antara angkul dan Gapura Candi Bentar adalah pada atap yang menghubungkan dua bangunan sejajar.

Jika Anda sering berkunjung ke Bali, bangunan ini identik dengan rumah-rumah khas Bali yang berbentuk seperti Candi Bentar dan terletak di depan bangunan rumah.

Ciri khas dari bagian rumah adat Bali ini adalah selalu dipenuhi dengan ukiran yang membuatnya terlihat sangat indah dan nyaman ketika dilihat. Angkul memiliki atap penghubung yang terbuat dari rumput yang sudah kering.

Namun seiring berjalannya waktu, banyak yang menggantinya dengan ubin atau genteng dan ada ukiran di dindingnya.

11. Lumbung

Sumber: artikel.rumah123.com

Lumbung merupakan bangunan khas Bali. Lumbung sendiri banyak digunakan oleh masyarakat untuk menyimpan hasil bumi, seperti beras, jagung, dan lain-lain. Namun, rumah ini tidak hanya berguna untuk menyimpan hasil bumi.

Namun bisa juga dibuat untuk menyimpan kebutuhan pangan pokok seperti beras. Rumah ini kecil, bahkan lebih kecil jika dibandingkan dengan rumah bale dan rumah ini terpisah dari bangunan utama.

Keunikan Rumah Adat Bali

Sumber: pinterest.com

Arsitektur Bali selalu memiliki ciri khas yang membedakannya dengan rumah tradisional Indonesia lainnya. Hal ini juga menambah eksotisme Bali yang dikagumi oleh wisatawan lokal maupun mancanegara.

Rumah adat sangat khas, arsitekturnya tidak lepas dari kemampuan masyarakat dalam menjaga warisan budaya secara turun temurun.

Keunikannya yang terlihat jelas dari luar adalah adanya Gapura Bentar yang merupakan pintu masuk ke dalam rumah. Uniknya, Gapura Bentar memiliki ukiran dan relief yang membuatnya benar-benar terlihat seperti sebuah candi.

Bentuk dari Gapura Bentar seperti dua buah candi kembar yang saling berhadapan sehingga disebut dengan Gapura Candi Bentar. Ukiran itu memiliki banyak arti.

Bentuk candi bentar pada umumnya berbentuk persegi atau persegi panjang. Ini memiliki tiga aspek, yaitu Parahyangan, Pawongan, dan Palemahan.


Nah, itulah penjelasan tentang rumah adat Bali yang bisa Anda jadikan referensi atau untuk menyelasaikan tugas. Semoga dengan adanya artikel ini dapat menambah wawasan dan dapat bermanfaat bagi kita semua.