Rumah Adat Madura

Rumah Adat Madura – Rumah adat pada umumnya memiliki keunikan yang dapat dijadikan sebagai tolak ukur untuk membedakannya dengan rumah adat lainnya.

Setiap rumah adat harus dibuat dengan mengutamakan adat-istiadat yang sudah ada.

Di setiap masing-masing daerah, rumah adat pasti memiliki ciri khas tertentu yang mana biasanya ciri khas tersebut menggambarkan tentang suku mereka.

Terdapat sebuah rumah adat bernama tanean lanjhang. Rumah ini merupakan rumah adat asli dari Madura yang masih dapat kita jumpai.

Penjelasan lebih lengkap tentang rumah tanean lanjhang ada di bawah, yuk simak pembahasannya berikut ini.

A. Mengenal Rumah Adat Madura

Mengenal Rumah Adat Madura

Apa yang Anda ketahui tentang rumah adat tanean lanjhang? Tanean lanjhang merupakan bangunan berpenghuni yang tersusun memanjang.

Rumah adat Madura ini berbentuk susunan bangunan beberapa rumah dan penghuni di dalamnya adalah keluarga yang masih memiliki ikatan.

Sikap kekerabatan masyarakat Madura sangat terasa ketika berada di dalam rumah adat tanean lanjhang, bahkan dalam satu kelompok rumah bisa berjejer 10 rumah dan setiap rumah dihuni oleh 1 keluarga.

Sikap yang menjunjung tinggi kekeluargaan merupakan ciri khas sebagian besar masyarakat Madura. Masyarakat Madura juga sangat menjaga dengan apa yang mereka miliki, seperti halnya rumah yang mereka miliki.

Hal ini dapat kita lihat secara langsung dari bentuk rumah adat Madura yang sebagian besar masih terawat dengan rapi dan terpelihara hingga saat ini.

Biasanya rumah adat ini dapat ditemukan di daerah yang berdekatan dengan lahan garapan, mata air atau sungai.

B. Rumah Adat Madura Tanean Lanjhang

Rumah Adat Madura Tanean LanjhangSumber: rumah.com

tanean lanjhang merupakan sebuah nama resmi untuk rumah adat yang berasal dari Madura. Bentuk bangunan rumah adat tanean lanjhang sudah diperkenalkan sejak dulu pada zaman kerajaan.

Masyarakat Madura juga terdapat sifat kekeluargaan yang tidak bisa dianggap remeh, karena kekeluargaan merupakan ciri khas dari mereka.

Tidak mengherankan jika sifat kekeluargaan ini turun ke bentuk pembuatan rumah mereka hingga mengelola pemukiman mereka dengan baik.

tanean lanjhang sebenarnya merupakan sebuah kompleks perumahan yang terdiri dari rumah-rumah yang berjejer ke arah samping.

Ketika Anda menyebut nama rumah adat lain, pasti itu hanya akan merujuk pada satu rumah saja. Namun, Madura memiliki keunikan tersendiri dalam pembangunan rumah mereka dengan konteks yang berbeda.

tanean lanjhang merupakan sebutan untuk pemukiman yang didiami oleh masyarakat Madura.

Permukiman ini biasanya berdiri sebuah rumah yang berjumlah sekitar 10 hingga 20 rumah warga dengan bentuk kemiripan yang sama persis.

Di sini juga telah terangkum secara lengkap bagian-bagian rumah, pola rumah, bahan bangunan dan bentuk bangunan rumah tanean lanjhang sebagai berikut.

C. Bagian Ruangan Dalam Rumah

bagian ruangan dalam rumah

Seperti rumah adat pada umumnya, Rumah Adat Madura tentunya memiliki bagian-bagian yang terdapat fungsi yang berbeda-beda. Fungsi dan kegunaannya tentu dapat sangat membantu penghuni di dalam rumah.

Sehingga ketika pembangunannya tidak boleh dilakukan secara sembarangan. Berikut merupakan bagian-bagian Rumah Adat Madura yang perlu Anda ketahui.

1. Tanean atau Halaman

Tanean merupakan sebuah kata dari bahasa Madura untuk menyebut “halaman”. Halaman yang berada di depan rumah Madura memang sengaja dibuat luas untuk digunakan sebagai tempat berkumpul para warga.

Sebelum membangun permukiman pun bagian halaman ini juga sangat dipertimbangkan, mereka mempertimbangkan luas halaman yang dibutuhkan untuk anggota permukiman tersebut.

Walaupun luas halaman rumah Madura berbeda-beda, tetapi luas halaman yang sering dipakai untuk halaman depan rumah ini biasanya berkisar di ukuran 90 meter.

Halaman depan rumah ini biasanya memiliki bentuk persegi panjang. Dengan disesuaikan bentuk bangunan rumah yang memanjang dan berhadap-hadapan.

Tempat ini sering digunakan untuk menjemur hasil panen, area bermain anak, dan kadang untuk acara seperti pesta hajatan warga.

2. Langgar

Masyarakat Madura juga terkenal akan sisi religiusnya. Pada zaman dulu banyak ulama besar yang berasal dari daerah Madura. Sisi religius ini ternyata juga muncul dalam rumah adat tanean lanjhang.

Karena setiap pemukiman tanean lanjhang terdiri dari beberapa rumah, maka tak heran jika di permukimannya dilengkapi dengan sebuah bangunan mushola.

Mushola ini tidak hanya digunakan oleh penghuni pemukiman melainkan dari luar pemukiman juga terkadang ikut sholat berjamaah di dalamnya.

Mushola kecil yang berada di Madura ini lebih banyak dikenal masyarakat Madura dengan sebutan langgar. Bangunan kecil ini biasanya berada di bagian paling ujung baratnya permukiman.

Biasanya ukuran yang digunakan untuk membangun langgar ini berkisar di ukuran 23 meter persegi. Langgar akan dihadapkan menghadap ke arah kiblat, yaitu ke arah barat.

Untuk saat ini sudah banyak langgar yang dilengkapi dengan berbagai pengeras suara, perlengkapan sholat, dan mengaji.

Langgar tidak hanya bersifat simbolis, melainkan Anda dapat melihat sendiri bahwa langgar ini digunakan oleh masyarakat untuk beribadah setiap kali masuk waktu sholat wajib.

Terdapat pula berbagai kegiatan keagamaan yang rutin dilakukan di langgar ini. Bahkan terdapat aturan tradisional yang mengharuskan para anak laki-laki yang sudah baligh untuk menuntut ilmu agama dilanggar.

Bahkan terkadang mereka menghabiskan waktu hingga masuk waktu malam di langgar ini. Tradisi inilah yang konon katanya membuat masyarakat Madura tidak masalah jika harus pergi mencari nafkah ke luar daerah.

Karena memang sejak masih remaja mereka para kaum laki-laki dididik untuk tidak terlalu berat meninggalkan rumah mereka.

3. Rumah Utama

Apa yang kalian ketahui tentang rumah utama? Rumah utama merupakan bangunan yang digunakan sebagai tempat hunian untuk masing-masing keluarga yang berada pemukiman tanean lanjhang.

Memiliki bentuk bangunan yang memanjang ke samping dan terbuat dari bahan yang kebanyakan adalah kayu. Bagian atap rumah ini terdapat kemiripan dengan bentuk atap rumah limas khas atap bangunan Jawa.

Atap rumah ini menggunakan genteng sebagai penutupnya, sedangkan untuk lantai biasanya hanya dibiarkan beralaskan tanah saja.

Jarak antara rumah satu dengan rumah keluarga lainnya tidak terlalu jauh, karena rumah-rumah ini berjejer memanjang ke samping.

Terdapat keunikan juga yang berada di rumah utama, yaitu tidak adanya dinding penyekat sebagai pembatas antar ruangan di dalam rumah.

Ini bertujuan untuk para orang tua lebih bebas mengawasi anaknya, terutama adalah anak perempuan mereka.

Rumah dalam satu permukiman ini hampir tidak ada yang berbeda bentuknya, semua memiliki kemiripan yang sama-sama persis.

Bahkan cat rumah pun terkadang diberi cat dengan warna yang sama atau mirip. Tapi seperti ini dibolehkan, karena memang tidak ada ketentuan apapun mengenai pewarnaan tembok ataupun hiasan rumah.

Jadi masyarakat bebas memakai warna yang mereka inginkan, bahkan menggunakan warna yang mirip sekalipun. Setiap ukuran luas rumah utama memang berbeda-beda.

Karena luas rumah menyesuaikan dengan jumlah anggota keluarga yang tinggal di rumah tersebut. Tetapi, terdapat aturan baku yang memang harus ditaati.

Seseorang yang ingin membangun rumah, lokasi pembangunan rumah utama ini harus sesuai dengan status sosial di  tengah masyarakat tersebut.

4. Kandang

Pada zaman dulu kebanyakan masyarakat Madura memang bekerja sebagai peternak dan petani. Dari dulu, Madura memang sudah terkenal sebagai wilayah penghasil sapi-sapi berkualitas.

Alasan kuat ini juga yang membuat ditemukannya beberapa bangunan kandang ternak di pemukiman tanean lanjhang. Walau begitu, tidak semua rumah utama memiliki kandang ternak.

Karena hanya masyarakat yang memiliki hewan ternak seperti kambing dan sapi saja yang memiliki kandang ternak seperti ini. Ukuran luas kandang juga dipengaruhi dengan berapa banyak hewan ternak yang dimiliki.

Semakin banyak hewan ternak yang dimiliki, maka luas kandang yang dibutuhkan untuk hewan ternaknya akan semakin besar. Masyarakat Madura ini rata-rata memiliki kandang dengan ukuran 6,6 × 6 meter.

Lokasinya sendiri terkadang berada di bagian timur atau selatan rumah mereka. Ketika dulu, kandang biasanya ditempatkan dengan jarak yang tidak terlalu jauh dari rumah utama.

Ini semua bertujuan agar sang pemilik rumah bisa menjaga hewan ternaknya ketika hari sudah malam.

Jangan heran, karena di daerah Madura tingkat pencurian hewan ternak seperti sapi masih sering terjadi, terutama menjelang hari raya Idul Adha.

Jadi, jarang melihat masyarakat yang membangun kandang yang jaraknya jauh dari rumah utama sang pemilik. Namun saat ini sudah amat jarang sekali ditemukannya kandang, terutama di daerah perkotaan Madura.

Masyarakat Madura saat ini kebanyakan lebih menyukai berdagang dan merantau ke kota-kota besar di Indonesia.

Tapi, jika Anda ingin menjumpai bangunan kandang ini, Anda dapat menjumpainya di daerah pedesaan, karena masih banyak disana yang masih berprofesi sebagai peternak dan petani.

5. Dapur

Terdapat keunikan yang berada di bagian dalam rumah adat tanean lanjhang dan bagian ini mungkin bisa dibilang bagian paling unik di rumah adat tanean lanjhang ini.

Apabila Anda terbiasa melihat bentuk dapur yang menyatu dengan rumah, namun ketika Anda melihat dapur di rumah tanean lanjhang ini pasti akan terpana.

Pasalnya, dapur yang dimiliki rumah tanean lanjhang memiliki bangunan dapur yang terpisah dari rumah utama.

Luasnya banguna dapur ini cukup beragam, karena tidak ada ketentuan adat yang menyertakan bangunan dapur ini. Digunakan secara bersama-sama oleh seluruh anggota masyarakat pemukiman tanean lanjhang.

Sebenarnya konsep dapur ini sama dengan dapur pada umumnya, yaitu digunakan para ibu-ibu untuk memasak setiap harinya.

Memasak biasanya dilakukan secara bersama dan dilakukan setiap pagi untuk nantinya dihidangkan kepada keluarga.

Kalau Anda berkeinginan menjumpai dapur seperti ini, Anda bisa pergi ke Kabupaten Bangkalan ataupun Sumenep di daerah pedesaan.

Karena memang disana kebanyakan masih menggunakan dapur seperti ini. Luas ukuran dapur ini pun cukup besar dan terdapat banyak peralatan memasak yang tersimpan di sana.

D. Pola Rumah Tanean Lanjhang

pola rumah tanean lanjhang

Ketika Anda berkeinginan membangun permukiman rumah adat tanean lanjhang, Anda harus mengikuti aturan yang berlaku. Bentuk pola permukiman yang digunakan tidak boleh dibangun sembarangan.

Terdapat aturan adat yang harus dipenuhi, agar kehidupan yang berjalan bisa harmonis dan sesuai tradisi. Penempatan bangunan rumah utama harus sejajar dari barat ke timur.

Di bagian tengah pemukiman ini terdapat halaman yang disebut Tanean, untuk bangunan rumah utama sendiri ditempatkan pada sisi utara dan selatan halaman.

Sedangkan untuk bagian barat digunakan sebagai tempat berdirinya mushola atau langgar.

Terletak di bagian tengah yang menjadikan mushola atau langgar ini seakan-akan menjadi titik sentral dari pemukiman tersebut. Peletakan bangunan rumah utama ini harus benar-benar Anda atur dengan baik.

Sebenarnya urutannya itu mudah, diawali dengan bangunan yang berada di paling barat yang merupakan bangunan generasi tertua, kemudian semakin ke timur akan semakin muda usianya.

Jadi apabila Anda bercita-cita membangun sebuah pemukiman rumah tanean lanjhang untuk beberapa keturunan, Anda perlu membangunnya dari ujung barat terlebih dahulu.

Filosofi ini merupakan turun temurun dari orang-orang terdahulu, yang harus tetap kita pegang teguh oleh penghuni permukiman tanean lanjhang sampai kapanpun.

Orang-orang di pemukiman ini diibaratkan seperti matahari yang semakin terbenam.

Karena memang tidak ada yang kekal di dunia ini, kematian itu pasti akan datang pada semua yang berjiwa. Sedangkan matahari terbit di ibaratkan seperti manusia yang baru lahir.

E. Material Bahan Bangunan Rumah

Material Bahan Bangunan Rumah

Umumnya masyarakat tradisional masih mengandalkan bahan-bahan yang berasal langsung dari alam untuk membangun rumah tradisional atau rumah adat mereka.

Sama halnya dengan rumah adat yang lain, Rumah Adat Madura sendiri dibangun dengan menggunakan bahan-bahan tradisional yang berasal dari hutan yang berada di sekitar pemukiman rumah adat tersebut.

Sebagai contoh, lantai yang digunakan oleh Rumah Adat Madura memiliki ketinggian hingga 40 cm di atas tanah.

Biasanya, material yang digunakan dalam pembuatan lantai ini adalah tanah sebagai lapisan utama atau paling bawah dan diteruskan oleh plesteran dan campuran bahan lainnya seperti terakota.

Sedangkan untuk tembok rumah adat ini dibangun menggunakan material yang terbuat dari bahan kayu dan terkadang juga bambu. Pada umumnya pintu rumah adat Madura terbuat dari kayu.

Masyarakat yang ekonominya lebih baik biasanya memiliki pintu depan yang dihias dengan ukiran khas Madura yang akan membuat tampilan pintu depan rumahnya lebih menarik.

Atap rumah adat ini terbuat dari daun lontar, ilalang, atau genteng, tergantung dari kondisi ekonomi keluarga tersebut.

Langgar yang berada di rumah adat Madura biasanya memiliki bentuk yang lebih kecil jika dibandingkan dengan rumah.

Langgar ini memiliki struktur bangunan seperti panggung dengan tiang setinggi 40 cm hingga 50 cm yang terbuat dari bambu atau kayu. Terdapat dinding kanan, kiri, dan belakang di bangunan langgar ini.

Dinding mushola ini  dapat terbuat dari tembok, kayu, maupun bambu. Atap bangunan langgar ini biasanya menggunakan genteng atau daun sebagai penutupnya.

Tiang penyangga yang digunakan langgar ini bisa berjumlah empat atau delapan tergantung dengan kebutuhan langgar yang digunakan.

F. Bentuk Atap Rumah Adat Madura

Bentuk Atap Rumah Adat Madura

Rumah adat Madura mengusum bentuk atap yang bentuknya sangat bervariasi.

Tapi memang kebanyakan atap yang digunakan mengusum bentuk atap yang digunakan di beberapa arsitektur bangunan rumah adat Jawa. Semua telah terangkum mengenai jenis-jenis atap rumah adat Madura.

1. Trompesan

Pertama, rumah tipe trompesan ini merupakan rumah dengan atap yang berbentuk mirip dengan rumah Jawa tipe Srotongan yang diberi cukit atau teritis di kedua sisinya.

2. Bangsal

Kedua, rumah tipe bangsal ini merupakan rumah dengan atap yang berbentuk mirip dengan rumah adat Jawa, yaitu rumah joglo.

Pada bagian sisi atap kiri dan kanannya akan dipotong dan puncaknya dihiasi bentuk seperti kapal atau ular naga.

3. Pegun

Ketiga, rumah tipe pegun ini memiliki atap yang bentuknya mirip dengan bentuk atap rumah Jawa tipe limasan pacul-gowang.

G. Denah Rumah Adat Madura

denah rumah adat madura peta rumah adat madura 7 Foto ini di ambil dari sumber media.neliti.com

H. Gambar Rumah Tanean Lanjhang

Sumber: kompas.com


Dari artikel yang telah kita baca tadi, dapat kita simpulkan bahwa sebuah keluarga itu bernilai sangat penting. Lengkap atau tidaknya sebuah keluarga tidak menjadi masalah untuk terus hidup rukun antar sesama.

Semoga artikel di atas dapat menambah wawasan Anda dalam memahami rumah adat Madura. Bagikan artikel ini ke teman-teman Anda, agar mereka juga tahu apa yang Anda tahu.