Rumah Adat Papua

rumah adat papua
Sumber : photoshop

Rumah Adat Papua – Papua adalah wilayah Indonesia yang terletak di sebelah timur. Pulau Papua merupakan pulau terbesar kedua setelah Greenland di Denmark.

Papua memiliki kekayaan alam yang melimpah. Tidak hanya itu, Papua juga memiliki banyak keunikan budaya yang jarang ditemukan di tempat lain.

Ketika mendengar budaya Papua, masyarakat awam akan langsung teringat dengan pakaian adat atau rumah adat unik yang terbuat dari jerami bernama Honai.

Padahal masih banyak jenis rumah adat Papua lainnya yang fungsinya belum banyak diketahui oleh masyarakat umum. Yuk simak beberapa fakta unik tentang rumah adat Papua di sini!

Jenis Rumah Adat Papua

Papua terdapat beberapa suku, tiap suku-suku ini memiliki ciri khas atau karakteristik bentuk rumah yang berbeda-beda. Simak pembahasan jenis rumah adat papua berikut.

1. Rumah Honai (Suku Dani)

Sumber: popbela.com

Rumah Honai merupakan rumah adat suku Dani. Salah satu ciri khas suku Dani adalah laki-laki dan perempuan dewasa hidup terpisah.

Ketika mereka dewasa, para pria suku Dani akan menempati sebuah rumah bernama Honai. Bentuk rumah Honai memang sangat unik.

Hal ini terlihat dari atap rumah Honai yang memiliki bentuk lebih besar dari dinding dan terbuat dari jerami.

Semua ini dimaksudkan untuk melindungi dinding dari air hujan. Biasanya bentuk rumah ini memiliki luas yang tidak terlalu besar dan cenderung sempit.

Mengapa rumah ini tidak besar? Mengapa cenderung lebih sempit? Jadi, rumah Honai dimaksudkan agar mampu menahan suhu dingin di malam hari agar penghuni rumah tetap bisa merasakan kehangatannya.

Ciri-ciri rumah Honai:

  1. Semua bahan bangunan didapat dari alam
  2. Rumah mungil dengan dua lantai

2. Rumah Panggung (Suku Maybrat, Imian, dan Sawiat)

Sumber: kompas.com

Rumah Adat Panggung merupakan rumah adat suku Maybrat, Imian, dan Sawiat. Berbentuk persegi empat dan terdiri dari tiga bagian, bagian tersebut meliputi kepala, badan, dan kaki.

Suku-suku ini banyak membangun pemukiman di daerah-daerah seperti perbukitan, jalan raya, dan aliran sungai dengan pola yang tersebar.

Namun untuk daerah pesisir, rumah Panggung ini cenderung mengikuti garis pantai.

Ada beberapa jenis rumah Panggung yang dikenal di suku ini, yaitu rumah bujangan laki-laki, rumah bujangan perempuan, dan rumah pohon untuk mengawasi dan memantau daerah sekitarnya.

Ciri-ciri rumah Panggung :

  1. Memiliki kolom serbaguna
  2. Posisi rumah dapat dipindahkan
  3. Tahan jika banjir melanda
  4. Jumlah tiang penyangga rumah
  5. Tangga di salah satu bagian rumah
  6. Rumah biasanya terbuat dari kayu

3. Rumah Jew (Suku Asmat)

Sumber: saturadar.com

Rumah Jew merupakan rumah yang ditempati oleh salah satu suku dari Papua yaitu suku Asmat. Suku Asmat membangun banyak rumah Jew ini. Sebagian besar orang Asmat tinggal di Lembah Baliem dan pesisir pantai.

Di kawasan lembah baliem ini, Anda bisa menemukan banyak struktur rumah Jew. Bagi suku yang tinggal di daerah lembah, permukiman mereka biasanya dibangun mengikuti bentuk sungai.

Sedangkan permukiman suku Asmat yang berada di sepanjang garis pantai umumnya memiliki pola linier yang mengikuti bentuk garis pantai.

Dinding bangunan terbuat dari kulit kayu atau papan yang disusun. Sambungan dinding dan rangka diikat dengan tali rotan atau akar pohon.

Setiap desa memiliki satu rumah bujangan yang digunakan untuk upacara adat dan upacara keagamaan dan banyak rumah keluarga.

Ciri-ciri rumah Jew:

  1. Luas Rumah Jew umumnya 10 x 15 meter
  2. Rumah Jew bahkan bisa mencapai ukuran 30 – 60 meter dengan lebar 10 meter
  3. Terdapat 2 pintu yang terletak di bagian depan dan belakang rumah
  4. Atap rumah terbuat dari daun lontar atau daun sagu yang dianyam sedemikian rupa
  5. Tiang-tiangnya terbuat dari kayu besi, tingginya 2,5 meter dan diukir dengan motif suku Asmat
  6. Lantai Rumah Jew biasanya terbuat dari bahan yang sama dengan bahan atapnya, yaitu daun sagu
  7. Dinding rumah terbuat dari batang sagu yang dianyam vertikal dan diikat dengan akar rotan
  8. Dinding, atap dan lantai selalu diganti setiap 5 tahun
  9. Rumah Jew biasanya dibangun di sekitar rumah keluarga kecil, biasa disebut Cem atau Tysem

4. Rumah Pohon (Suku Korowai)

Sumber: hipwee.com

Rumah pohon adalah rumah yang dibangun dan ditempati oleh suku yang berada di papua, suku Korowai. Seperti namanya, rumah ini terletak di atas dahan pohon dengan ketinggian sekitar 15 hingga 50 meter.

Tentunya rumah ini berguna untuk melindungi penghuninya dari binatang buas. Suku Korowai merupakan suku asli dari pedalaman Papua.

Rumah pohon merupakan tempat tinggal suku Korowai sekaligus tempat perlindungan warga dari serangan binatang buas. Rumah pohon ini terletak antara 15 hingga 50 meter di atas permukaan tanah.

Bukan tanpa alasan suku Korowai memilih tempat yang tinggi untuk tempat tinggalnya, semua ini bertujuan untuk menghindari roh jahat bernama “laleo” dan binatang buas.

Banyak suku Korowai percaya bahwa laleo adalah roh jahat atau setan kejam yang berkeliaran di malam hari dan berjalan seperti mayat hidup di malam hari, untuk mencari kerabat mereka.

Saat mereka menempati rumah yang lebih tinggi, mereka percaya bahwa mereka akan lebih terlindungi dan lebih jauh dari mahluk laleo ini.

Ciri-ciri rumah Pohon:

  1. Memiliki Ketinggian yang fantastis, yaitu 15 – 50 meter
  2. Atap rumah terbuat dari tumpukan jerami
  3. Semua bahan bangunan didapat dari alam
  4. Penyangga rumah menggunakan pohon yang berdiameter minimal 1 meter
  5. Rata-rata rumah pohon memiliki ukuran sekitar 7×10 meter.
  6. Umumnya rumah pohon dapat bertahan selama 2 hingga 3 tahun
  7. Bentuk rumah pohon yang besar akan diberi penyekat ruangan
  8. Pintu masuk berbentuk runcing di kedua ujungnya, satu digunakan pria dan satunya wanita.

5. Rumah Wamai (Suku Dani)

Sumber: Romadecade.org

Masih merupakan rumah adat yang dibangun oleh suku Dani, rumah Wamai merupakan salah satu rumah adat Papua.

Banyaknya jenis rumah yang dibangun oleh suku Dani menunjukkan bahwa suku ini sudah memiliki kehidupan yang terstruktur.

Bangunan rumah ini sebenarnya bukan bangunan tempat tinggal, melainkan bangunan kandang ternak. Nama Wamai sendiri berasal dari sebutan untuk hewan ternak utama yang biasa dipelihara yaitu ‘wam’ atau babi.

Bangunan rumah Wamai cukup istimewa bagi masyarakat Dani, karena wam atau babi sangat berharga bagi mereka. Hewan yang sering dimasukkan ke dalam rumah Wamai adalah ayam, kambing, babi, dan anjing.

Ciri-ciri rumah Wamai:

  • Dari luar, rumah Wamai mirip dengan rumah Honai. Namun, dinding rumah Wamai tidak semuanya berbentuk lingkaran.

Beberapa sumber mengatakan, terkadang dinding rumah ini berbentuk persegi atau persegi panjang. Ukurannya juga tidak sama antara satu rumah dengan rumah lainnya.

Bentuk dan ukurannya fleksibel menyesuaikan dengan jumlah hewan ternak yang akan ditampung di dalam rumah.

6. Rumah Ebai (Suku Dani)

Sumber: artikel.rumah123.com

Nama rumah adat Papua selanjutnya adalah rumah adat Papua Ebai atau Huma dari suku Dani. Rumah ini juga memiliki desain yang mirip dengan rumah adat Papua Honai dan Wamai.

Rumah adat Papua Ebai digunakan untuk perkumpulan khusus wanita. Nama Ebei berasal dari kata ‘ebe’ dan ‘ai’. Ebe diartikan tubuh dan ai di artikan rumah.

Kata tubuh digunakan karena wanita dipercaya sebagai tubuh bagi kehidupan. Karena itu, rumah adat Papua Ebai menjadi tempat para ibu mendidik anak perempuannya.

Untuk belajar  merawat anak, memasak, melayani suami, dan sebagiannya.

Ciri-ciri rumah Ebai:

  1. Sebenarnya rumah Ebai hampir seluruhnya memiliki bentuk yang sama dengan rumah adat Honai. Namun perbedaan mencolok dari kedua rumah ini adalah rumah Ebai memiliki atap berbentuk setengah lingkaran
  2. Rumah Ebai ada di kanan atau kiri rumah Honai
  3. Bentuk rumah Ebai lebih kecil jika dibandingkan dengan rumah honai.

7. Rumah Kariwari (Suku Tobati-Enggros)

rumah kariwari papua

Sumber: cendananews.com

Suku Tobati-Enggros yang tinggal di sekitar Teluk Youtefa dan Danau Sentani Jayapura memiliki rumah adat yaitu Rumah Kariwari.

Rumah Kariwari terbuat dari kayu besi, bambu, dan daun sagu hutan. Ketika Anda mengunjungi rumah ini, Anda akan sadar. Bahwa rumah ini tidak dimaksudkan untuk tempat tinggal.

Sebaliknya, rumah ini digunakan untuk pendidikan dan ibadah. Karena itulah, rumah ini dianggap sebagai tempat suci oleh Suku Tobati-Enggros.

Ciri-ciri rumah Kariwari:

  1. Atap berbentuk kerucut yang menjulang ke atas
  2. Bahan dasar rumah ini adalah kayu besi, bambu, dan daun sagu hutan
  3. Rumah ini memiliki 3 tingkat
  4. Rumah ini berbentuk limas segi delapan

8. Rumah Rumsram (Suku Biak Numfor)

rumah rumsram papua

Sumber: kibrispdr.org

Suku Biak Numfor yang terletak di pantai utara Papua memiliki rumah adat yang disebut rumah rumsram.

Seperti halnya Kariwari, rumah ini bukanlah tempat tinggal, melainkan tempat kegiatan pengajaran khusus bagi kaum pria.

Rumah Rumsram berbentuk bujur sangkar dengan atap seperti perahu terbalik. Desain atap sebenarnya berkaitan dengan profesi sebagian besar masyarakat Biak Numfor, yaitu sebagai pelaut.

Rumah ini memiliki lantai dari kulit kayu, dinding dari bambu air dan pelepah sagu, dan atap dari daun sagu kering.

Umumnya sebuah rumah Rumsram akan memiliki ketinggian sekitar 6-8 meter yang terbagi menjadi dua bagian yang dibedakan berdasarkan ketinggian lantai.

Ciri-ciri rumah Rumsram:

  1. Lantai rumah yang terbuat dari kulit kayu
  2. Tempat kegiatan pengajaran khusus bagi kaum pria.
  3. Dinding rumah ini terbuat dari bambu air dan pelepah sagu
  4. Atap yang terbuat dari daun sagu yang sudah dikeringkan

9. Rumah Kaki Seribu

rumah kaki seribu papua

Sumber: mongabay.co.id

Mod Aki Aksa atau lebih dikenal dengan rumah kaki seribu merupakan rumah adat khas Suku Arfak di Papua Barat.

Rumah ini disebut rumah kaki seribu karena memiliki banyak kaki atau tiang pondasi seperti hewan kaki seribu.

Bentuk rumah kaki seribu ini hampir sama dengan rumah panggung. Untuk membedakannya, Anda hanya perlu membedakan total tiang penyangga pondasi rumah.

Karena rumah kaki seribu memiliki tiang penyangga yang cukup banyak,tiang ini sekaligus menjadi tiang utama bangunan.

Ciri-ciri rumah Kaki Seribu:

  1. Atap rumah ini terbuat dari ilalang
  2. Lantainya dari anyaman rotan
  3. Memiliki tiang yang cukup banyak
  4. Bentuk atap rumah seperti kapal perahu yang di balik
  5. Dinding rumah terbuat dari kayu yang disusun secara horizontal dan vertikal dengan cara mengikat satu sama lain

10. Rumah Hunila

rumah hunila papua

Sumber: tokopedia.net

Rumah Hunila adalah rumah yang mirip dengan rumah Honai. Rumah Hunila lebih panjang dan lebar dari pada rumah Honai. Penduduk yang menghuni rumah ini adalah suku Dani.

Biasanya para wanita akan memasak sagu atau ubi bakar di rumah Hunila. Setelah memasak, para wanita kemudian akan mengantarkan makanan ke Pilamo dan seluruh keluarganya.

Ciri-ciri rumah Hunila:

  • Rumah ini berfungsi sebagai dapur, rumah ini berguna untuk membuat makanan bagi seluruh penghuni Silimo atau beberapa rumah Honai dalam satu tempat.

Nah, itulah penjelasan tentang rumah adat Papua yang bisa Anda jadikan referensi atau untuk menyelasaikan tugas. Semoga dengan adanya artikel ini dapat menambah wawasan dan dapat bermanfaat bagi kita semua.