Rumah Adat Toraja

rumah adat toraja

Rumah Adat Toraja – Ada banyak rumah adat yang unik dan cukup menarik di Indonesia. Salah satu rumah yang paling populer dan terkenal di Indonesia adalah rumah adat Tongkonan.

Kata “tongkon” berarti “duduk atau duduk bersama“. Istilah bahasa ini berasal dari daerah Toraja sendiri.

Bangunan ini tidak hanya sebagai tempat tinggal, tetapi juga digunakan sebagai pusat kehidupan sosial budaya suku Toraja.

Rumah ini lebih difungsikan sebagai tempat ritual dan upacara adat yang melibatkan langsung keluarga besar. Penasaran dengan rumah adat Toraja? Yuk simak fakta menariknya berikut ini.

A. Mengenal Rumah Adat Tongkonan

Mengenal Rumah Adat Tongkonan

Peran rumah bukan hanya digunakan sebagai tempat hunian saja melainkan terdapat fungsi yang lain, fungsi tersebut yaitu sebagai peranan sosial bagi penghuninya.

Masyarakat yang mendiami Toraja mengenal dua golongan rumah yang berbeda, yaitu Banua Tongkonan (sebagai rumah adat) dan Banua Barung-Barung (rumah pribadi atau rumah hunian).

Tongkonan merupakan rumah adat yang telah di resmikan oleh pemerintah dan berasal dari tanah Toraja.

Bangunan Tokanan juga berfungsi sebagai tempat hunian bagi penguasa dan tempat berlangsungnya acara-acara adat.

Barung-barung merupakan tempat hunian yang digunakan oleh keluarga yang bukan termasuk penguasa.

Bentuk arsitektur bangunan Tongkonan cukup unik ketika dilihat dengan teliti dari bentuk atap dan penampilan bangunannya.

Keunikan arsitekturnya ini sudah turun temurun dari nenek moyang mereka dan tetap dipertahankan hingga saat ini.

1. Perkembangan Rumah Adat Toraja

Terdapat empat tahapan proses yang cukup panjang terkait perkembangan rumah adat Toraja sebelum benar-benar menjadi bentuk bangunan yang kita kenal saat ini.

Simak pembahasan mengenai perkembangan rumah adat Toraja berikut ini.

a. Banua Pandoko Dena

Rumah ini memiliki bentuk seperti rumah burung pipit yang terkesan masih sangat sederhana dan rumah ini terletak di pohon.

Terbuat dari ranting kayu yang telah dikumpulkan dan diletakkan di atas dahan, sedangkan dinding dan atapnya terbuat dari rumput yang berbentuk bundar seperti sarang burung pipit.

Rumah ini difungsikan sebagai tempat perlindungan dari panasnya paparan sinar matahari atau hujan dan binatang buas yang sewaktu-waktu bisa mengancam.

b. Banua Lentong A’pa

Rumah ini membutuhkan 4 tiang yang terbuat dari kayu kuat untuk menyangga atapnya agar tidak roboh. Atap dan dinding rumah ini menggunakan dedaunan sebagai media penutupnya.

Sekarang bangunan Banua Lentong A’pa lebih dimanfaatkan untuk digunakan sebagai tempat kandang ternak.

c. Banua Tamben

Bangunan Banua Tamben dimanfaatkan masyarakat Toraja sebagai tempat hunian atau rumah. Rumah ini memiliki bentuk atap rumah yang cukup unik.

Atap rumah ini disebut cukup unik karena berbentuk seperti perahu terbalik dan pada kedua ujungnya menjulang ke atas. Material dominan yang digunakan untuk membangun rumah ini adalah kayu.

d. Benuatoto atau Banua Sanda ‘Ariri

Bangunan Banua Toto memiliki bentuk persegi panjang, terdapat pula tiang yang cukup banyak, namun tertata yang berada di dalam bangunan Banua Toto ini.

Terdapat banyak hiasan ukiran pada bangunan dan bahkan rumah adat ini ternyata bertingkat dua.

2. Filosofi Rumah Adat Tongkonan

Pada setiap rumah adat yang berada di Indonesia pastinya terdapat nilai-nilai filosofisnya yang wajib kita ketahui.

Rumah adat Tongkonan memiliki sebuah catatan nilai filosofinya sendiri yang mana selalu bertolak kepada sebuah falsafah kehidupan yang berasal dari ajaran Aluk Todolo.

Filosofi tersebut bermakna bahwa setiap bangunan rumah adat Toraja harus ada keterkaitannya dengan proses perkembangan masyarakat Toraja.

Rumah Tongkonan menurut masyarakat Toraja diibaratkan sebagai sebuah simbol keluarga dan martabat mereka. Jadi ketika rumah adat ini dijual, maka sama saja mereka menjual martabat dari pemilik rumah tersebut.

3. Makna dan Fungsinya

Setiap rumah adat dibuat pastinya memiliki makna dan fungsinya tersendiri, tidak terkecuali rumah adat Tongkonan. Saat ini, sudah jarang orang-orang yang masih menghuni rumah adat ini.

Karena hampir setiap penduduk sekarang lebih memilih untuk membangun dan menghuni rumah tinggalnya sendiri.

Awal mulanya, rumah Tongkonan digunakan sebagai salah satu tempat untuk dijadikan sebuah pusat kebudayaan bagi masyarakat yang bertinggal di Toraja.

Rumah adat ini juga akan dipergunakan ketika ada upacara religi yang berlangsung, khususnya bagi keluarga si pemilik rumah.

Rumah Tongkonan sendiri dapat difungsikan sebagai banua atau rumah tradisional bahkan dapat digunakan sebagai tempat penyimpanan makan atau biasa disebut lumbung padi.

Seperti nilai filosofis di atas tadi, bahwasannya rumah adat Tongkonan merupakan sebuah tempat yang memiliki aspek yang begitu luas.

Karena meliputi seluruh aspek kehidupan masyarakat Toraja itu sendiri. Alasan kuat ini juga yang menjadi masyarakat Toraja sangat mensakralkan rumah Tongkonan hingga sekarang.

B. Ruang Di Rumah Tongkonan

Ruang Di Rumah Tongkonan

Rumah Tongkonan pada dasarnya terbagi kedalam 3 bagian, yaitu bagian selatan, utara, dan tengah. Setiap bagian ini memiliki fungsi yang berbeda-beda, lebih jelasnya sebagai berikut.

1. Ruang Selatan

Pertama, ruangan bagian selatan yang sering disebut dengan Sumbung. Ruangan ini merupakan area pribadi kepala keluarga yang juga hanya ditempati oleh kepala keluarga itu sendiri.

Masyarakat Toraja sangat menghormati kepala keluarga karena memiliki peranan penting dalam segala hal urusan yang terjadi.

Hampir seluruh peraturan yang berlaku di dalam sebuah keluarga hingga aktivitasnya pun diatur dan dikendalikan oleh kepala keluarga.

2. Ruang Utara

Selanjutnya merupakan ruangan yang berada di bagian utara rumah yang sering disebut dengan Tengolak.

Bagian ini memiliki beberapa ruangan yang berbeda, seperti terdapat ruang tamu, tempat tidur bagi anak-anak, dan sebagian tempat untuk meletakkan sesaji.

Tengolak merupakan ruangan pertama yang akan Anda lihat ketika Anda bertandang ke rumah adat Tongkonan.

Dari sini juga dapat kita simpulkan bahwa ruangan ini berada di dekat pintu utama jalan masuk menuju rumah.

3. Ruang Tengah

Yang terakhir ini merupakan bagian rumah yang berada di bagian tengah rumah. Terdapat juga sebutan lain yang disematkan untuk ruangan ini, yaitu Sali.

Fungsi ruangan ini memang cukup banyak dan sangat beragam, namun ruangan ini lebih diutamakan sebagai tempat disimpannya jasad anggota keluarga yang telah meninggal.

Fungsi lain dari ruangan Sali ini adalah sebagai ruang pertemuan keluarga dan juga ruang makan. Tak perlu heran jika terdapat jasad di ruangan Sali, karena hal seperti ini bukanlah sesuatu yang menakutkan bagi Suku Toraja.

Melainkan ini dilakukan karena masyarakat Toraja sangat menjunjung tinggi hubungan antara seseorang yang masih hidup dengan leluhur yang telah meninggal dunia.

Sebenarnya masih terdapat bagian rumah adat yang lain yang memang tidak dimasukkan dalam pembahasan bagian-bagian rumah tadi. Bagian rumah tersebut adalah ruang Alang Sura.

Ruang ini sering dikenal sebagai tempat penyimpanan persediaan makanan atau lumbung padi. Bangunan lumbung padi sendiri biasanya berada di bangunan yang terpisah dengan rumah utama.

C. Jenis Rumah Adat Tongkonan

Jenis Rumah Adat Tongkonan

Terdapat beberapa jenis rumah adat Tongkonan yang berbeda-beda. Jenis-jenis rumah adat ini menyesuaikan dengan peran dari penguasa atau pemimpin yang ada.

berikut merupakan beberapa jenis rumah adat Tongkonan yang mesti Anda ketahui:

1. Tongkonan Batu A’riri

Rumah adat Tongkonan yang pertama merupakan rumah Tongkonan Batu A’riri. Rumah ini digunakan sebagai rumah oleh keluarga biasa atau masyarakat yang membutuhkan tempat tinggal.

Tongkonan Batu memiliki bentuk ukuran yang tidak begitu besar dan terdapat perbedaan dengan rumah Tongkonan lainnya.

2. Tongkonan Pekamberan atau Pekaindoran

Jenis rumah adat Tongkonan yang kedua merupakan rumah Tongkonan Pekamberan. Rumah adat ini hanya dikhususkan untuk keluarga besar yang memiliki otoritas tinggi pada suatu daerah.

Rumah Tongkonan Pekamberan juga terkadang dipakai oleh para penguasa untuk tempat hunian dan mengatur berbagai bentuk pemerintahan adat yang ada.

3. Tongkonan Layuk atau Pesio Aluk

Jenis rumah adat yang terakhir bernama rumah Tongkonan Layuk atau Pesio Aluk. Rumah adat satu ini memang termasuk rumah adat yang pertama kali digunakan sebagai pusat pemerintahan dan kekuasaan.

Rumah ini biasanya digunakan sebagai tempat yang mengatur segala hal urusan pemerintahan agar berjalan dengan baik dan lancar.

D. Keunikan dari Rumah Tongkonan

Keunikan dari Rumah Tongkonan

Terdapat sebuah keunikan yang berada pada bangunan rumah Tongkonan ini, simak penjelasannya di bawah ini.

1. Atap Rumah Berbentuk Seperti Perahu

Bentuk atap pada rumah Tongkonan ini menyerupai seperti bentuk perahu yang pada kedua ujung sisi kiri dan kanan nya berbentuk seperti busur.

Konon dikisahkan bahwa suku Toraja, mereka datang dari arah utara melalui laut. Namun, terperangkap akibat datangnya badai yang dahsyat yang juga membuat perahu mereka rusak parah.

Akhirnya dari kisah ini atap rumah suku Toraja dibentuk menyerupai perahu dan selalu menghadap ke utara.

2. Memiliki Ornamen Unik

Terdapat beberapa bentuk ornamen yang cukup unik di dalam rumah Tongkonan. Merah dan hitam merupakan warna yang mendominasi ornamen-ornamen tersebut.

Terdapat desain geometris, spiral, dan motif kepala kerbau serta ayam jantan yang diwarnai merah, putih, kuning dan hitam yang letaknya berdekatan dengan atap.

Warna merah, putih, kuning dan hitam mewakili berbagai festival Aluk To Dolo (Jalan Leluhur), yakni agama asli Toraja.

Bahkan warna-warna ini dianggap sakral oleh sebagian masyarakat Toraja. Terdapat juga arti yang terkandung di dalam empat warna tersebut, antara lain:

  • Hitam diibaratkan sebagai kematian dan kegelapan
  • Kuning bermakna berkat dan kuasa Tuhan
  • Putih mengarah ke warna tulang yang memiliki arti kemurnian
  • Merah merupakan warna darah dan kehidupan manusia

3. Tanduk Kerbau Pada Bagian Depan Rumah

Pada bagian depan rumah yang berada dekat dengan atap, terdapat ornamen sebuah tanduk kerbau.

Jumlah setiap tanduk kerbau yang terpasang melambangkan pemakaman yang telah keluarga pemilik tongkonan lakukan.

Jika terdapat 3 tanduk kerbau, berarti telah meninggal tiga orang di dalam keluarga tersebut. Tanduk kerbau juga diibaratkan sebagai tinggi rendahnya derajat keluarga tersebut.

Apabila jumlah tanduk kerbau semakin banyak, maka status sosialnya pun akan semakin tinggi.

E. Contoh Gambar Rumah Adat Toraja

artikel.rumah123.com
tongkonan batu
toraja-f.com
tongkonan pekamberan
99.co
rumah adat yang berasal dari Toraja
kampoeng-heber.blogspot.com
Tongkonan Layuk atau Pesio Aluk
99.co

Itulah tadi fakta-fakta menarik yang juga dapat dijadikan sebagai referensi buat Anda yang sedang mencari penjelasan mengenai rumah adat Toraja. Simak fakta menarik tentang rumah adat lainnya di Lahana Media.