Upacara Adat Bali

Upacara Adat Bali – Masyarakat di Bali mayoritasnya adalah pemeluk agama Hindu. Di bali terdapat banyak upacara yang diadakan, terutama ketika mendekati Hari Raya umat beragama Hindu.

Walaupun terkadang pelaksanaannya tidak begitu meriah, misalnya dikarenakan keluarga yang kurang mampu.

Upacara akan tetap dilanjutkan yang mana dengan tingkatan yang lebih kecil, tapi tidak merubah tujuan dari upacara yang adat tersebut. Penasaran? Simak pembahasan tentang “Upacara Adat Bali” secara lengkap berikut ini.

Macam-macam Upacara Adat Bali

Macam-macam-upacara-adat-Bali

Upacara adat yang berlangsung di Bali memang cukup Fleksibel. Karena juga tidak terlalu membebankan kepada sang pelaksana acara.

Berikut merupakan macam-macam upacara yang diadakan di Bali, terutama bagi umat beragama Hindu, Bali.

+1. Upacara Adat Ngaben

Upacara Adat NgabenSumber: id.theasianparent.com

Ngaben merupakan sebuah upacara yang hanya diperuntukan untuk orang yang meninggal.

Upacara ngaben berlangsung dengan tahapan “tubuh seorang yang meninggal akan dibakar dan abunya dihanyutkan ke laut“.

Pelaksanaan upacara ngaben terbagi dalam beberapa macam, yaitu meliputi:

  • Ngaben Sawa Wedana, dilakukan dengan pengawetan tubuh jenazah terlebih dahulu. Baru setelahnya pelaksanaan upacara ngaben berlangsung. Waktu yang dibutuhkan dalam tahapan ini biasanya sekitar 3-7 hari.
  • Ngaben Asti Wedana, dalam tahapan ini jenazah dikubur terlebih dahulu selama beberapa hari. Setelah dikubur baru pelaksanaan upacara adat di berlangsungkan.
  • Upacara Swasta, Upacara ini dilakukan apabila jenazah tidak berada di tempat atau luar daerah dan bisa saja karena jasad yang tidak ditemukan.

Upacara adat ngaben diperkiraan memerlukan biaya 150-200 juta rupiah. Jadi tak heran jika jarang terlihat masyarakat Bali melangsungkan upacara adat ngaben ini.

Faktor utama upacara ngaben tidak sering terlihat adalah ekonomi. Karena tidak semua masyarakat Bali memiliki ekonomi yang cukup untuk melaksanakan upacara adat ngaben tersebut.

+2. Tradisi Nyepi

Tradisi-Adat-NyepiSumber: tirto.id

Tradisi nyepi berlangsung ketika terjadinya pergantian tahun dalam tanggalan Bali (Saka). Biasanya tradisi ini berlangsung pada bulan Maret-April tahun Masehi.

Memiliki tujuan untuk memohon kepada Tuhan (Ida Sanghyang Widhi Wasa). Untuk mensucikan alam manusia (Bhuana Alit) dan alam semesta (Bhuana Agung).

Tradisi nyepi sendiri berlangsung dengan cara tidak melakukan aktivitas apapun, tidak buat gaduh, bepergian, dan menyalakan lampu.

Kecuali tempat yang diperbolehkan untuk dikunjungi ketika hari raya nyepi, seperti sebuah rumah sakit.

Tradisi nyepi dilakukan bertujuan agar masyarakat dapat mengendalikan hawa nafsu dan menahan segala keinginan.

Beberapa dari masyarakat Bali ketika tradisi nyepi berlangsung, mereka melakukan tapa, yoga, brata, dan semedi. Bertujuan agar dapat membuka sebuah lembaran baru dengan hati yang putih dan bersih.

+3. Upacara Adat Melasti

Upacara Adat MelastiSumber: cnnindonesia.com

Melasti atau sebutan lainnya ialah mekiyis dan melis merupakan sebuah rangkaian kegiatan tradisi Bali sebelum datangnya hari raya nyepi.

Upacara melasti sendiri biasanya berlangsung selama 2-4 hari sebelum hari raya nyepi tiba.

Ketika upacara melasti akan berlangsung, para masyarakat Hindu Bali biasanya akan mendatangi sumber air seperti; danau, mata air, hingga laut.

Konon di kabarkan bahwa sumber air yang dimaksud memiliki sebuah mata air keabadian atau Amerta. Pada saat upacara sudah berjalan, sang pemangku adat akan memercikan air suci ke kepala setiap orang.

Bertujuan agar di dalam tubuh, jiwa dan raga bisa kembali suci bersih dari semua kotoran dan hal buruk

+4. Upacara Omed-omedan

Upacara Omed-omedanSumber: liputan6.com

Pembahasan berikutnya adalah upacara omed-omedan yang dapat kita jumpai tradisi tersebut di Banjar Kaja, Sesetan, Denpasar, Bali.

Diadakan setelah hari raya nyepi pada pada pukul 14:00 atau jam 2 siang selama 2 jam.

Uniknya, upacara omed-omedan hanya diperuntukan untuk para muda-mudi yang belum menikah di umur yang sudah mencapai 18-30 tahun.

Upacara omed-omedan dilangsungkan dengan cara sembahyang massal terlebih dahulu di pura.

Setelah itu 2 kelompok akan dihadapkan, yaitu pria dan wanita yang belum menikah yang mana selanjutnya mereka akan di tabrakkan.

Ketika bertabrakan mereka akan disiram air dan berakhir dengan saling berciuman. keberadaan tradisi ini sudah ada sejak puluhan tahun silam dan akan tetap ada sampai kapan pun.

+5. Upacara Adat Ngerupuk dan Ogoh-ogoh

Upacara Adat Ngerupuk dan Ogoh-ogohSumber: traveloka.com

Upacara Ngerupuk diadakan untuk menangkal dan mengusir “Buta Kala” kejahatan pada sore hari (sandhyakala).

Kegiatan ini sendiri masih masuk dalam serangkaian kegiatan hari raya nyepi dan pelaksanaannya sehari sebelum hari H(nyepi).

Ketika acara berlangsung masyarakat Bali wajib melakukan persembahan kepada Bhuta Kala.

Ritual diawali dengan mengotori rumah, menaburkan bubuk mesiu ke rumah dan pekarangan dan membuat suara dengan memukul benda hingga gaduh.

Setelah semua tahapan kegiatan selesai, Anda bisa menyaksikan pawai ogoh-ogoh yang diarak mengelilingi rumah-rumah warga.

+6. Upacara Adat Galungan

Upacara Adat GalunganSumber: kumparan.com

Galungan merupakan sebuah bahasa yang di ambil dari Jawa Kuno yang memiliki arti “menang“.

Sesuai dengan namanya upacara yang berlangsung memiliki tujuan untuk merayakan atas kemenangan yang didapat setelah melawan kejahatan.

Tujuan lain dari upacara galungan adalah untuk memperingati terbentuknya alam semesta beseta isinya.

Dilaksanakan 25 hari sebelum datangnya hari raya galungan. Hari raya galungan sendiri akan dirayakan setiap 210 hari menurut perhitungan kalender di Bali.

+7. Upacara Adat Tumpek Landep

Upacara Adat Tumpek LandepSumber: nusabali.com

Tumpek landep merupakan sebuah upacara yang diadakan untuk menyucikan senjata dan peralatan yang dimiliki, dengan sesaji dan doa.

Pelaksanaannya berada di pura yang dianggap sakral dan memiliki lokasi yang tepat. Seseorang yang memimpin jalannya upacara tumpek landep adalah pemuka adat.

Diharapkan penyucian ini akan mendatangkan keberkahan bagi para pemilik senjata dan peralatan tersebut.

+8. Upacara Adat Otonan

Upacara Adat OtonanSumber: kintamana.id

Upacara otonan diadakan untuk merayakan kelahiran seorang bayi (ulang tahun Bali).

Diadakan apabila bayi sudah menginjak 6 bulan (210 hari) dan setiap 6 bulan selanjutnya akan selalu diadakan (namun, dengan upacara yang lebih kecil).

Masyarakat Bali sangat percaya bahwa hari lahir sangat berpengaruh pada watak seseorang. Jika watak yang dimiliki dirasa kurang baik maka biasanya akan diadakan upacara kembali.

Harapan diadakan upacara kembali adalah agar dapat mengubah perilaku dan watak yang dimiliki.

+9. Upacara Adat Mepandes

Upacara Adat MepandesSumber: kompas.com

Terdapat sebutan lain yang disematkan pada upacara mepandes, yaitu “metatah” dan” mesuguh“. Upacara mepandes di adakan ketika terdapat seorang anak yang akan menginjak usia remaja.

Dilangsungkan dengan mengikis 6 gigi taring bagian atas milik anak yang akan beranjak remaja ini.

Tujuan dari diadakannya upacara mepandes adalah untuk menghilangkan nafsu buruk, seperti keserakahan, kecemburuan, marah dan sebagainya.

+10. Upacara Adat Tumpek Uduh

Upacara Adat Tumpek UduhSumber: restuemak.com

Tumpek udah ternyata juga dikenal juga dengan Tumpek Wariga, Tumpek Bubuh atau Pengatag. Perayaan upacara tumpek ludah dilakukan setiap 6 bulan sekali tepatnya pada hari Saniscara (Sabtu) Kliwon, wuku Wariga.

Tepatnya sekitar 25 hari sebelum datangnya Hari Raya Galungan. Pelaksanaannya adalah dengan persembahan kepada manifestasi Tuhan sebagai Dewa Sangkara penguasa Tumbuh-tumbuhan.

Maknanya bahwa penting bagi kita untuk selalu menjaga tanaman dan alam agar tidak rusak dengan apa yang kita lakukan.

+11. Upacara Adat Saraswati

Upacara Adat SaraswatiSumber: bali.tribunnews.com

Upacara adat Saraswati diadakan bertujuan untuk merayakan ilmu pengetahuan yang telah diberikan oleh Dewi Saraswati.

Diadakan dengan cara membaca doa yang ditujukan kepada Dewi Saraswati. Setelah doa-doa ini selesai, selanjutnya adalah akan ditampilkan sebuah pertunjukan pentas seni selama semalam.

+12. Upacara Adat Ngurek

Selanjutnya ada upacara ngurek, upacara ini dianggap sebagian orang sebagai upacara yang cukup ekstrim. Karena banyak yang menyandingkan dan menyamakan upacara ngurek  dengan debus.

Upacara ngurek berlangsung dengan cara orang-orang yang terlibat akan menusukkan sebuah keris ke tubuh mereka.

Walau terlihat ekstrim, ternyata terdapat sebuah nilai moral yang tersimpan dalam tradisi ngurek ini. Bahwasannya sebagai manusia kita harus mempercayai bahwa Tuhan itu ada.

Dengan percayai itu Anda akan diberikan anugerah dan juga pertolongan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa.

+13. Upacara Adat Piodalan

Upacara Adat PiodalanSumber: travelerbaper.com

Piodalan atau yang biasa dikenal dengan Pujawali, Petoyan/ Petirtaan merupakan sebuah hari raya besar dalam kepercayaan agama Hindu.

Upacara ini masuk dalam rangkaian upacara Dewa Yadnya yang ditujukan kepada Ida Sang Hyang Widhi. Kata Piodalan sendiri berasal dari kata Wedal yang memiliki arti “keluar” atau “lahir”.

Disini dapat kita ketahui bahwa Piodalan adalah sebuah upacara untuk merayakan ulang tahun sebuah pura/ tempat suci.

Jadi Anda jangan heran jika di Bali ada sebuah hari yang ditetapkan sebagai hari suci perayaan Piodalan/ Pujawali.

Pagelaran upacara piodalan dapat dilakukan dalam skala besar maupun kecil tergantung pada kemampuan masyarakat setempat.

Pelaksanaan upacara piodalan sendiri terbagi menjadi tiga tingkat, meliputi piodalan tingkat nista, piodalan tingkat madya dan piodalan tingkat utama.

+14. Upacara Adat Mesuryak

Tradisi MesuryakSumber: bali.bisnis.com

Nama mesuryak berasal dari kata suryak yang memiliki arti “berteriak” atau “bersorak”. Upacara mesuryak di adakan setiap 6 bulan sekali (210 hari).

Tepatnya pada hari kuningan yang pelaksanaannya 10 hari sebelum perayaan Hari Raya Galungan.

Mesuryak hanya dapat kalian jumpai di di Desa Bongan, Kabupaten Tabanan dan merupakan salah satu budaya leluhur yang amat dijaga.

+15. Upacara Adat Mepantigan

Tradisi MepantiganSumber: today.line.me

Tradisi mepantigan merupakan sebuah pertunjukan seni beladiri asal Bali yang masih ada hingga sekarang.

Kalian dapat menjumpai pertunjukan seni bela diri ini di Desa Ubud, dan Batubara yang terletak di Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar.

Nama mepantigan sendiri memiliki arti “saling membanting” yang mana dibutuhkan kekuatan yang cukup untuk membanting sang lawan.

Dapat dilakukan dimana saja asal areanya harus berlumpur, ini bertujuan untuk mengurangi resiko cedera yang didapat.

+16. Upacara Adat Mekotek

Tradisi MekotekSumber: regional.kompas.com

Nama mekotek sendiri berasal dari suara “tek, tek” yang mana suara tersebut berasal ketika upacara mekotek berlangsung. Mekotek merupakan sebuah tradisi unik dari Bali dan sering disebut dengan ngerebe.

Diadakan setiap 6 bulan sekali tepatnya pada perayaan Hari Raya Kuningan (10 hari setelah Galungan). Anda dapat menjumpai tradisi mekotek di Desa Munggu, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Bali.

Tujuan diadakannya mekotek ini adalah untuk menolak hal-hal buruk yang datang dan memohon untuk selalu diberi keselamatan.

Awalnya, proses dalam pelaksanaan kegiatan mekotek ini menggunakan tongkat yang terbuat dari besi.

Karena besi bisa berpotensi mencederai peserta, maka yang awalnya besi digantilah dengan tongkat yang terbuat dari kayu pulet dengan panjang 2-3,5 m.

Tongkat pulet ini akan digabungkan menjadi satu yang membentuk seperti sebuah formasi kerucut yang menghasilkan suara “tek, tek“.

+17. Upacara Adat Mekare-kare

Tradisi Mekare-kareSumber: jadiberita.com

Mekare-kare merupakan sebuah pertunjukan ajang untuk menunjukkan kehebatan antar lelaki. Tradisi seperti ini dapat kita jumpai di kawasan Tenganan, Karangasem, Bali.

Kedua orang akan bertarung sekuat tenaga untuk dapat memenangkan pertandingan tersebut. Senjata yang digunakan adalah sebuah daun pandan yang memiliki duri-duri tajam di sekelilingnya.

Para peserta yang berpartisipasi dalam lomba hanya diberi satu helai daun dan satu perisan sebagai pelindungnya.

Tujuan diadakan tradisi mekare-kare adalah untuk menghormati Indra yang merupakan dewa perang dalam Hindu.

Para lelaki yang berpartisipasi dalam tradisi ini akan dianggap kuat dan siap jika mengikuti peperangan. Diadakan setahun sekali dan lebih tepatnya pada awal Juni.


Itu tadi kumpulan upacara adat di Bali yang punya fakta cukup menarik bukan? Semoga artikel ini dapat menambah wawasan dan meningkatkan toleransi antar umat beragama.