Upacara Adat Yogyakarta

Upacara Adat Yogyakarta – Budaya yang berada di Indonesia sangat beragam jenisnya. Bahkan di setiap daerah di Indonesia memiliki ciri khas kebudayaannya masing-masing.

Kita sebagai penerus bangsa seharusnya bisa menjaga dan melestarikan kebudayaan di Indonesia ini. Salah satu kebudayaan yang patut dijaga agar tidak hilang termakan zaman adalah upacara adat.

Kebetulan disini kita juga akan membahas mengenai berbagai upacara adat di provinsi D.I. Yogyakarta, selengkapnya sebagai berikut.

Berbagai Jenis Upacara Adat Yogyakarta

Berbagai-Jenis-Upacara-Adat-Yogyakarta.jpg

Yogyakarta merupakan sebuah provinsi yang berada di samping provinsi Jawa Tengah. Daerah Yogyakarta terkenal akan kultur budayanya yang benar-benar masih terjaga dengan baik.

Salah satunya yang paling terkenal adalah pelaksanaan upacara adat pembukaan cupu panjala. Lebih lengkapnya kalian dapat membacanya pada ulasan sebagai berikut.

#1. Upacara Adat Sekaten

Upacara Adat Sekaten
Sumber: phinemo.com

Terdapat sebuah upacara adat yang dilaksanakan di Keraton Yogyakarta selama 7 hari yaitu upacara sekaten.

Upacara sekaten telah ada sejak zaman masih berdirinya kerajaan Demak. Upacara ini diadakan sangat meriah, karena bertujuan untuk memperingati hari kelahiran dari Nabi Muhammad SAW.

Asal mula nama sekaten berasal dari istilah credo, credo dalam islam memiliki arti Syahadatain. Ciri khas dari upacara sekaten adalah ditandai dengan terdapat beberapa alat musik tradisional Yogyakarta seperti:

  • Gamelan Sekati
  • K.K. Guntur Madu
  • K.K. Nagawilaga

Alat musik tradisional ini berasal dari keraton yang mana nantinya akan ditempatkan di Pagongan Selatan dan Utara di depan Masjid Gedhe. Masjid Gedhe sendiri berada di dalam komplek Keraton.

#2. Upacara Adat Nguras Enceh

Upacara Adat Nguras Enceh
Sumber: gudeg.net

Nguras enceh adalah upacara adat yang dilaksanakan setiap hari Jumat Kliwon atau Selasa Kliwon yang bertepatan dengan bulan Suro (kalender Jawa).

Pelaksanaannya adalah membersihkan gentong-gentong yang berada di makam raja-raja Jawa di Imogiri, Bantul, D.I Yogyakarta.

Tujuan dari upacara adat ini adalah untuk menjaga kebersihan hati dari hal-hal yang kotor.

#3. Upacara Adat Tumplak Wajik

Upacara Adat Tumplak Wajik
Sumber: kratonjogja.id

Tumplak wajik merupakan acara yang diadakan untuk membuat sebuah wajik. Wajik sendiri merupakan makanan khas Yogyakarta yang terbuat dari beras ketan dan dicampur dengan gula kelapa.

Biasanya acara ini diadakan untuk memulai pembuatan pareden dalam upacara garebeg, tepatnya 2 hari sebelum acara grebeg dimulai.

Pada acara ini akan dihadiri seorang yang sangat penting dari keluarga keraton yaitu pembesar keraton. Jalannya acara ini akan diiringi dengan iringan musik khas dari Jogja.

Terdapat pula beberapa alat musik khas jogja yang akan dimainkan yaitu meliputi ansambel lesung-alu (penumbuk padi), kentongan, dan alat musik lainnya.

#4. Upacara Adat Siraman Pusaka

Upacara Adat Siraman Pusaka
Sumber: java-hymn.blogspot.com

Siraman Pusaka merupakan upacara adat yang berasal dari keraton Yogyakarta dengan tujuan untuk membersihkan semua benda pusaka yang ada.

Pelaksanaannya setiap Kamis Kliwon atau Selasa Kliwon yang bertepatan dengan bulan Suro dan dilaksanakan pada pagi hingga siang hari selama 2 hari.

Pusaka yang dibersihkan antara lain tombak, keris, pedang, kereta perang, ampilan dan sebagainya.

Pada upacara siraman pusaka ini juga terdapat beberapa pusaka penting milik keraton Yogyakarta, yaitu:

  • Tombak K.I Ageng Plered
  • Keris K.I Ageng Sengkelat
  • Kereta Kuda Jimat Nyai

Namun khusus untuk pusaka K.I Ageng Plered dan Kyai Ageng Sengkelat dari pihak Sri Sultan langsung sendiri yang membersihkannya.

Setelah pusaka-pusaka penting dibersihkan, barulah pusaka-pusaka lainnya dibersihkan oleh para  Pangeran, Wayah Dalem dan Bupati.

#5. Upacara Adat Rebo Pungkasan

Upacara Adat Rebo Pungkasan
Sumber: starjogja.com

Waktu pelaksanaan upacara rebo wekasan adalah pada hari Rabu terakhir dibulan Safar yaitu sistem penanggalan Jawa atau kalender Jawa.

Upacara rebo wekasan bisa Anda jumpai di desa Wonokromo, Pleret, Bantul, Yogyakarta.

Menurut sejarah, upacara rebo wekasan sudah ada sejak tahun 1784 yang diawali oleh seorang tokoh masyarakat bernama Mbah Kyai Faqih Usman.

Sedangkan hari terakhir bulan Safar dipilih karena pada waktu itu Mbah Kyai dan Sultan Hamengkubuwono melakukan pertemuan pertama kalinya.

#6. Upacara Adat Saparan Bekakak

Upacara Adat Saparan Bekakak
Sumber: infopublik.id

Terdapat sebuah tradisi unik di desa Ambarketawang, yang terletak di Kecamatan Gamping, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Tradisi tersebut berlangsung dengan cara menyembelih Bekakak, yaitu sepasang boneka temanten (pengantin Jawa) yang terbuat dari tepung ketan.

Waktu pelaksanaan upacara saparan atau bekakak yaitu pada bulan Safar (kalender Jawa) dan dilakukan selama satu kali dalam satu tahun.

#7. Upacara Adat Grebeg Muludan

Upacara Adat Grebeg Muludan
Sumber: tirto.id

Waktu pelaksanaan upacara grebeg muludan sendiri dilakukan tiga kali dalam setahun dengan menggunakan sistem penanggalan Jawa. Tepatnya pelaksanaan upacara grebeg muludan ini berlangsung pada tanggal:

  • 12, bulan Mulud (bulan ke-3 dalam penanggalan Jawa)
  • 1, bulan Syawal (bulan ke-10 dalam penanggalan Jawa)
  • 10, bulan besar (bulan ke-12 dalam penanggalan Jawa)

Pada hari pelaksanaan grebeg maulud, seseorang yang berpangkat sultan akan membagikan sedekah kepada rakyatnya.

Tujuan diadakannya upacara grebeg maulud ini adalah sebagai tanda syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas kemakmuran yang diberikan

#8. Upacara Adat Kupatan Jolosutro

Upacara Adat Kupatan Jolosutro
Sumber: wisatasejarah.wordpress.com

Kupatan jolosutro merupakan upacara yang dilakukan selama satu kali dalam setahun. Waktu pelaksanaanya sendiri yaitu ketika telah memasuki musim panen.

Kalian dapat menjumpai upacara kupatan jolosutro di desa Jolosutro, yang berada pada kecamatan Bantul, Yogyakarta.

Pada perhelatan upacara kupatan jolosutro ini kalian akan menemukan sebuah ketupat, namun dengan bentuk yang berbeda dari biasanya.

Karena bentuk dari ketupat pada pelaksanaan upacara kupatan jolosutro sangat besar dengan ukuran yang mencapai 365×35 cm.

Sedangkan untuk lapisannya, ketupat ini dibungkus menggunakan daun gebang.

Tujuan dari pelaksanaan upacara kupatan jolosutro adalah sebagai tanda rasa syukur pada Tuhan yang Maha Esa atas kesejahteraan yang diberikan.

#9. Upacara Adat Bathok Bolu Alas Ketonggo

Bathok bolu alas ketonggo merupakan upacara adat yang berasal dari Sambiroto, desa Purwomartani, Kecamatan Kalasan, Sleman, Yogyakarta.

Upacara adat ini diadakan setiap tanggal 10 pada bulan Suro yang bertujuan untuk memperingati nilai-nilai luhur dari putra Sultan Hamengku Buwono V.

Putra dari Sultan Hamengku Buwono V yang dimaksud disini yaitu Pangeran Ganthi atau Sujono.

Waktu pelaksanaan upacara bathok bolu alas ketonggo sendiri biasanya diadakan pada sekitar jam sembilan malam.

#10. Upacara Adat Jodhangan Goa Cerme

Upacara Adat Jodhangan Goa Cerme
Sumber: bantulpedia.bantulkab.go.id

Jodhangan goa cerme merupakan sebuah upacara adat yang berlangsung di daerah Selopamioro, Imogiri, Bantul.

Upacara jodhangan goa cerme sendiri diadakan pada hari Minggu Pahing, bulan Suro (kalender Jawa).

Tujuan diadakan upacara jodhangan goa cerme sebagai bentuk tanda rasa syukur masyarakat kepada sang pencipta.

Pada acara tersebut masyarakat juga akan berdoa agar ditahun yang akan datang selalu diberikan keselamatan, serta sehat jasmani dan rohani.

Pelaksanaan acaranya sendiri berlangsung pada halaman depan goa cerme yang terletak pada bukit Imogiri.

Goa cerme dipilih karena masyarakat meyakini bahwa dulu tempat ini berguna sebagai tempat musyawarah para wali Allah.

Masyarakat akan beramai-ramai membersihkan desa sebelum acara ini dimulai. Jalannya upacara ini yaitu dengan masyarakat melakukan kirab dengan berjalan kaki sejauh 1 kilometer.

Kebanyakan dari masyarakat memakai pakaian khas Jawa pada perhelatan acara ini.

#11. Upacara Adat Labuhan Parangkusumo

Upacara Adat Labuhan Parangkusumo
Sumber: cakrawala.co

Labuhan parangkusumo merupakan upacara adat dari provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Menurut sejarah upacara adat ini telah diadakan sejak zaman masa kepemimpinan kerajaan Mataram Islam di Yogyakarta pada abad ke XIII.

Masyarakat percaya upacara adat labuhan parangkusumo dapat mendatangkan keselamatan, ketentraman dan kesejahteraan.

Terdapat 4 empat yang akan digunakan sebagai tempat pelaksanaan upacara labuhan parangkusumo.

Keempat tempat ini memiliki jarak yang saling berjauhan dan terdapat latar belakang sejarah pada masing-masing tempat tersebut, 4 tersebut yaitu.

  • Dlepih yang berada di Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah
  • Parangtritis di sebelah selatan Yogyakarta
  • Puncak Gunung Lawu
  • Puncak Gunung Merapi

#12. Upacara Adat Pembukaan Cupu Panjala

Upacara Adat Pembukaan Cupu Panjala
Sumber: gunungkidulpost.com

Pembukaan cupu panjala merupakan bentuk tradisi yang berlangsung dengan cara meramal.

Tradisi ini sudah ada sejak zaman dahulu dan media yang digunakan untuk membaca ramalan tersebut adalah kain kafan.

Waktu pelaksanaanya sendiri dilakukan pada musim kemarau di bulan Ruwah (kalender Jawa) dan bertempat di pasar Kliwon.

Banyak dari masyarakat luar kota yang menyempatkan waktunya untuk melihat secara langsung prosesi pelaksanaan acara ini.

Orang-orang yang memimpin jalannya acara ini adalah para abdi dalem keraton yang mana sebelum pelaksanaannya mereka diharuskan untuk berpuasa.

Cupu panjala sendiri merupakan 3 buah kendi terbungkus kain kafan disimpan pada sebuah peti selama ratusan tahun.

Nah, untuk setiap tahunnya kain kafan yang membungkus kendi tersebut akan diganti.

Setelah digunakan untuk membungkus kendi kain kafan dipercaya memiliki sebuah ramalan yang akan terjadi dalam waktu satu tahun mendatang.


Semoga ulasan tentang upacara adat Yogyakarta di atas dapat menambah wawasan Anda. Jika menurut Anda ulasan di atas membantu, silahkan Share artikel pembahasan ini ke teman-teman.